Showing posts with label cerita kisah mualaf. Show all posts
Showing posts with label cerita kisah mualaf. Show all posts

Monday, May 13, 2013

More than can be measured

Hi There,

I'm writing this today to start to synthesize a very large pool of knowledge. If there is one thing I hope you can take away from reading this article it is that our own realization of our potential has only begun. I hope that reading this article will help you start see yourself and those around you as individuals with limitless potential if you haven't already begun to do so.

Want to get higher test scores? Let's start by looking a little at tests as goals!

IQ is not of a set quantity. The IQ test is just a vague measuring tool that is over 100 years old and is used to measure intelligence.

This is what Alfred Binet the creator of the IQ test back in 1905 said "...[it] does not permit the measure of intelligence, because intellectual qualities are not superposable, and therefore cannot be measured as linear surfaces are measured." He also said that a persons IQ is not of a fixed quantity.

This leads us to the question, if the creator of the IQ test said it couldn't measure intelligence why did he create it in the first place?

The answer is of course he didn't create it to measure intelligence, he created it as a diagnostic tool.

Yet many still use it as a measuring tool! I saw one we known school in Jakarta that even had an Elite Class and the sole determiner of whether or not a student received entry into that Elite Class was IQ.

Want to raise your IQ test score? Just buy this book http://www.amazon.com/The-Complete-Book-Intelligence-Tests/dp/0470017732/ref=sr_1_3?ie=UTF8&qid=1367321632&sr=8-3&keywords=IQ+test or any book full of exercises similar to the exercises used in the IQ test. You'll raise your IQ! Simple! This is nothing new, my father did it back in his college years. He wasn't happy with his IQ test score so he bought a similar book, worked hard on understanding and training for the test and yes got a much better score.

Does this mean he was smarter or more intelligent after getting a better score? Of course not! It just meant he could better sit the test.

The IQ test is a good example of tests in general in the sense that we are diagnosing the amount of knowledge or ability obtained by the individual in certain areas. Teaching for tests is then akin to a doctor receiving  a patient and after "testing" him gives him a score (kudos to Ken Robinson for this example). Does this cure the illness? No! Does it benefit the patient? Of course not! So if it's ridiculous for you to go to a doctor for a 'score' it should be equally ridiculous for us to make scoring well in tests the goal of education.

Ridiculous as it may be, this is the habit we have fallen into in our educational institutions. We should really keep reminding ourselves what the goals of education are in the first place. It certainly isn't to arm our future citizens with a bunch of numbers to wave around.

Here's a list of goals to ponder about (taken from 'Big Picture' by Dennis Littky and Samantha Grabelle):


  • be lifelong learners
  • be passionate
  • be ready to take risks
  • be able to problem-solve and think critically
  • be able to look at things differently
  • be able to work independently and with others
  • be creative
  • care and want to give back to their community
  • persevere
  • have integrity and self-respect
  • have moral courage
  • be able to use the world around them well
  • speak well, write well, read well, and work well with numbers
  • truly enjoy their life and their work.

 
None of these goals include "getting good scores" because scores are only something we should use to help diagnose how well the individual is travelling towards goals like those listed above.

So how does this all relate to limitless potential?

If we only teach what we can test, we are limiting our students potential. If we only study what we can recall on demand, we are limiting our own potential. The mind is a far superior tool than we give it credit for. I will give you a few examples.

In a university workshop on memory tactics a group of students were asked to memorize some pictures flashing onto the screen. The issue here wasn't only the number of the pictures but the speed. Approximately 100 pictures were flashed in a period of only 30 seconds or so. Of course the students laughed and proclaimed that this was a impossible task. Yet when shown pairs of pictures at slower speeds (one being of the pictures they saw before along side a new picture) they had little problem getting a high success rate in picking out the one they had seen before. This shows the huge power of the subconscious. Even though they couldn't consciously recall the pictures when asked, their subconscious had still registered them.

This is only the tip of the iceberg, through recent developments in neuroscience we are starting to realize the true learning potential of our minds. We are starting to pick up at why so many alternative learning methods 'felt so right' it's because most of them were in so many more ways than we ever realized.

If we can start to consider more the whole human being and the whole human experience in learning then we can start to truly realize the vast possibilities of human potential.

Looking forward to exploring this more with you soon!

Kindest regards,

-Hugh







Wednesday, April 11, 2012

Hugh Lloyd Roydon Elliott: Orisinalitas al-Quran Mantapkan Imanku

Hi guys,

Here's an article that was published on me in the Rupublika newspaper in Indonesia on Sunday the 8th of April 2012.



Sorry that I haven't arranged a translation yet but for those of you who speak Indonesian here it is:

REPUBLIKA.CO.ID, “Semua berawal saat aku berusia 17 tahun,” pria asal Australia itu mengawali ceritanya. Ditemui di sebuah rumah makan franchise di kawasan Pondok Cabe Tangerang, Hugh Lloyd Roydon Elliott tampak begitu bersemangat membagi pengalamannya.
Hugh tak perlu waktu bertahun-tahun untuk mengenal Islam. Ia menerima Islam dalam kurun waktu yang terbilang singkat; dua pekan! “Aku sangat beruntung karena Allah teramat menyayangiku. Ia memudahkan segalanya bagiku,” ujarnya kepada reporter Republika, Devi A Oktavika, beberapa waktu lalu.
Hugh lahir di Adelaide dan dibesarkan di Victoria, di tengah lingkungan Kristen tentunya. Beruntung, kedua orang tuanya yang beragama Protestan tak pernah memaksanya memeluk agama tertentu. “Terutama ibuku, ia percaya agama apa pun yang kupilih adalah yang terbaik bagiku. Aku sangat beruntung memiliki ibu sepertinya,” kata pria kelahiran 30 September itu.
Sementara itu, ayah Hugh adalah pemilik perusahaan besar dengan sejumlah kantor perwakilan di luar Australia, termasuk di Indonesia. Karena itu, Hugh telah mengenal Indonesia sejak lama.
Saat ia berusia 13 tahun, sang ayah membawanya untuk tinggal bersamanya di Indonesia selama enam bulan. Sementara ayahnya mengurus perusahaan, Hugh sibuk dengan home schooling dan pertemanan barunya dengan sejumlah anak Indonesia. Indah, seorang perempuan Muslim yang kini menjadi istrinya, adalah satu diantaranya.
Pada usia itu, Hugh tak meyakini agama apa pun, termasuk agama kedua orang tuanya. Ketidakyakinan itu telah muncul sejak bungsu dari empat bersaudara ini duduk di bangku sekolah dasar. “Pada masa itu, aku merasa berhadapan dengan hal-hal yang tidak masuk akal setiap kali membaca Bibel. Terakhir, Kitab itu kuberikan pada salah seorang teman.”
Bagi Hugh kala itu, Bibel tidak memuat kesepakatan antara ayat yang satu dengan lainnya. “Itu membuatku berpikir bahwa ia adalah kitab yang dibuat atau direvisi oleh manusia. Semakin aku membacanya, semakin aku menemukan kebingungan-kebingungan baru,” katanya.
Saat berusia 17 tahun, dalam sebuah liburan, Hugh kembali berkesempatan mengunjungi Indonesia selama sebulan. Dalam kesempatan itu, ia mengunjungi Indah dan keluarganya. Bersama mereka, Hugh berlibur di Majalengka, kota asal Indah dan keluarganya.
Dalam sebuah kesempatan, ayah Indah mendapati Hugh sedang mengamati putrinya shalat. Ia lalu menawarkan diri untuk menjelaskan beberapa hal tentang Islam, yang diterima Hugh dengan senang hati.
“Ia menjelaskan tentang shalat, wudhu, juga satu hal yang membuatku sangat shock, khitan,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Saat itu, Hugh yang tak mengenal apa pun tentang Islam kecuali azan, menemui kakak laki-laki Indah yang bertanya padanya tentang Bibel. Hugh menjawabnya dengan mengatakan bahwa kitab tersebut tidak orisinil.
Hugh lalu disodori Alquran. Setelah mendapat penjelasan bahwa Alquran adalah kitab orisinil yang diturunkan Allah kata demi kata kepada Nabi Muhammad SAW 1.400 tahun yang lalu, Hugh berjanji pada dirinya untuk mencari tahu isi kitab tersebut di Australia.
Hugh pergi ke sebuah toko buku dan membeli sebuah Alquran terjemah sekembalinya dari Indonesia. Sampai rumah, ia membuka halaman pertama dan membacanya. “Tak ada yang istimewa. Kata-kata ini sangat mudah dibuat oleh manusia,” gumamnya kala itu.
Hugh lalu tersadar dan memutuskan bahwa mengkritisi Alquran bukanlah cara terbaik memahami kitab tersebut. “Lalu aku mengatakan pada diriku sendiri, ‘Aku harus membuka pikiranku untuk ini’,” ujarnya. Hugh mulai membacanya di rumah, kereta, dan bus. Kemana pun ia pergi, Hugh membawa serta buku barunya itu.
Hugh sampai pada pertengahan kitab tersebut dua minggu kemudian. Ia takjub karena tak menemukan sedikit pun kontradiksi di dalamnya. “Tidak ada pertentangan, dan tidak ada kebingungan saat membacanya. Semuanya sangat jelas dan sederhana,” katanya. Ia tertarik pada ayat-ayat yang diawali kata-kata “wahai orang-orang yang beriman”, dan melihatnya sebagai perintah untuk berkontemplasi.
Satu waktu, Hugh menemukan sebuah ayat dalam surah An-Nisa yang dinilainya kontradiktif. Ayat itu memerintahkan seorang suami memukul istrinya saat sang istri melakukan kesalahan. Hugh tak terima. Ia menelusuri internet untuk menemukan tafsir dari ayat tersebut.
“Dari penjelasan beberapa mufassir, barulah aku tahu bahwa pukulan itu dimaksudkan sebagai teguran. Itu pun hanya untuk dilakukan menggunakan benda-benda kecil seperti saputangan. Subhanallah,” tuturnya.
Kesempurnaan Alquran memantapkan hati Hugh. Tanpa merasa perlu menghabiskan isi Alquran, ia meyakini kebenaran Islam dalam separuh bagian yang telah dibacanya. Ia segera mencari tahu tentang syahadat dari internet dan beberapa teman Muslimnya di Indonesia.
Hanya saja, Hugh tak mengenal seorang Muslim pun di Australia. Hingga akhirnya, ia menghampiri seorang perempuan berkerudung di sekolahnya. Berbekal informasi dari perempuan tersebut, Hugh mendatangi seorang syekh untuk berkonsultasi tentang syahadat.
Sayangnya, berkaitan dengan hukum yang berlaku di Australia, mereka menyarankan Hugh bersyahadat setelah genap berusia 18 tahun. Hugh menolak. “Bagaimana jika aku tertabrak bus besok pagi dan kemudian meninggal sebelum sempat bersyahadat?” katanya.
Melihat Hugh berkeras masuk Islam, sang syekh menyarankannya untuk hadir dalam sebuah kajian dan ceramah rutin di sebuah masjid kota di Melbourne. Syekh itu mengatakan, Hugh bisa bersyahadat pada imam di masjid tersebut setelah ceramah selesai.
Hugh mengikuti saran itu. Ditemani sang syekh, Hugh menghampiri imam masjid tersebut setelah acara kajian selesai. Ia menanyai Hugh beberapa hal terkait kesiapan dan kesungguhannya memeluk Islam. Setelah meyakinkan sang imam tentang kesungguhannya, Hugh bersyahadat.
Ia kemudian diminta tidak terburu-buru mengamalkan Islam secara penuh. “Imam itu memintaku belajar terlebih dahulu, termasuk untuk shalat.” Lagi-lagi, Hugh merasa tak perlu menundanya. “Bagaimana pun juga aku harus shalat, karena aku adalah seorang Muslim.”
Sampai di rumah, dengan berpedoman sebuah buku panduan kecil, Hugh shalat. Ia memegang buku itu di salah satu tangannya dan terus membawanya sepanjang shalat. “Aku shalat sambil membaca, termasuk saat sujud sekalipun, karena aku belum menghafal bacaan-bacaannya,” tuturnya.
Saat itulah perasaan yang disebut Hugh ‘ajaib’ menyergapnya. “Aku merasa berdiri langsung di hadapan Tuhan. Dinding-dinding kamar dan semua benda di sekelilingku seolah hilang. Hanya aku dan Allah,” ujarnya dengan nada takjub.
Tahun 2007, usai menamatkan kuliahnya di Teach International di Melbourne, Hugh kembali ke Indonesia. Ia menjadi guru bahasa Inggris dan menikahi Indah empat tahun kemudian. Kini Hugh sibuk menjadi pengajar sekaligus konsultan pendidikan bahasa Inggris di sebuah sekolah Islam internasional di Jakarta.
“Seperti telah kukatakan, Allah memudahkan segalanya bagiku. Kini, selain diberi kesempatan untuk mengamalkan ilmuku bagi Muslim, aku memiliki lingkungan yang luar biasa untuk memperluas pemahamanku tentang Islam. Alhamdulillah,” ujar pria yang mengaku memiliki nickname islami Abdullah Al-Faruq ini.

Maybe I will do a write up of my full story somedayin English and post it up here.If you'd like to see that just let me know ^-^.

Okay guys peace out and until next time - let's change some lives! ^-^

-Hugh